Margin, markup, dan titik impas
Berapa banyak yang harus terjual supaya tidak rugi?
Pelajaran ini belum terbuka
Materi di sini disusun berurutan supaya ceritanya nyambung. Selesaikan dulu:
Ke pelajaran yang terbukaLangkah 1 dari 5
"Markup 50%, berarti untung 50%, kan?"
Pemasok kemasan langganan Mbak Sari juga menjual kacang bawang. Ia menawari Mbak Sari ikut menjualnya di samping keripik. "Markup-nya 50%, Bu, jadi untungnya 50%." Benarkah untungnya 50%?
Langkah 2 dari 5
Markup dan margin, berdampingan
Misalnya biaya Rp100, lalu barangnya dijual Rp150. Selisihnya Rp50.
Animasi Selisih yang sama, dua cara membagi
- Biaya Rp100, dijual Rp150.
- Selisihnya Rp50.
- Markup: selisih dibagi biaya. 50 ÷ 100 = 50%.
- Margin: selisih dibagi harga jual. 50 ÷ 150 = 33,3%.
- Selisihnya sama. Yang berbeda hanya pembaginya.
Jadi "markup 50%" artinya hanya sepertiga dari harga jual yang tersisa. Setiap kali ada yang menyebut persen, tanyakan dibagi dengan apa?
Dalam obrolan sehari-hari, orang kadang memakai kata "margin" untuk sisa dalam rupiah. Di pelajaran ini, margin selalu berarti persen, yaitu sisa dibagi harga jual.
Coba putuskan
CV Kemas Mandiri membeli kotak makanan isi 100 dari pabrik seharga Rp120.000 per pak, lalu menjualnya Rp180.000. Untuk setiap pak, ada ongkos kirim Rp10.000 dan potongan pembayaran Rp5.000.
Berapa persen dari harga jual yang benar-benar tersisa setelah semua biaya per pak?
Pertimbangkan lagi
Itu markup dari harga beli. Rp180.000 dikurangi Rp120.000 sama dengan Rp60.000, lalu dibagi Rp120.000. Padahal ongkos kirim dan potongan pembayaran juga keluar setiap ada pengiriman.
Pertimbangkan lagi
Itu margin kalau yang dihitung hanya harga beli. Rp60.000 dibagi Rp180.000. Ongkos kirim dan potongan pembayaran belum dikurangi.
Pilihan paling tepat
Betul. Biaya per pak Rp120.000 + Rp10.000 + Rp5.000 = Rp135.000. Sisanya Rp45.000, dan Rp45.000 dibagi Rp180.000 sama dengan 25%. Sisa Rp45.000 per pak itu yang dipakai untuk menutup biaya bulanan.
Ketiga angka itu benar, tetapi masing-masing menjawab pertanyaan yang berbeda. Untuk menentukan harga, pakai sisa setelah semua biaya per unit dikurangi.
Langkah 3 dari 5
Dari sisa per bungkus ke titik impas
Setiap bungkus yang terjual menyisakan uang setelah biaya per bungkus dibayar. Orang menyebutnya kontribusi, karena uang ini ikut menyumbang untuk membayar biaya bulanan. Di sini kita sebut saja sisa per bungkus.
Biaya bulanan adalah biaya yang tetap dibayar tiap bulan walaupun sepi pembeli. Titik impas adalah jumlah yang harus terjual supaya sisa dari semua bungkus pas menutup biaya bulanan. Di titik itu Anda tidak untung, juga tidak rugi.
Tebak dulu
Setiap bungkus Mbak Sari menyisakan Rp8.000. Biaya bulanannya Rp1.200.000. Berapa bungkus yang harus terjual sebulan agar impas?
Jawabannya: 150 bungkus
Rp1.200.000 dibagi Rp8.000 hasilnya 150 bungkus, kira-kira 5 bungkus per hari. Kalau hasil baginya pecahan, bulatkan ke atas, karena tidak ada setengah bungkus.
Begini sisa dari setiap bungkus terkumpul sampai menutup biaya bulanan.
Animasi Dari bungkus pertama sampai titik impas
- Biaya bulanan Rp1.200.000 harus tertutup lebih dulu.
- Setiap bungkus menyisakan Rp8.000 untuk menutup biaya bulanan.
- 50 bungkus: terkumpul Rp400.000. Belum impas.
- 100 bungkus: terkumpul Rp800.000. Belum impas.
- 150 bungkus: terkumpul Rp1.200.000. Biaya bulanan tertutup. Di sini usaha impas, tidak untung dan tidak rugi.
- 190 bungkus: sudah lewat titik impas. Mulai ada sisa Rp320.000.
Langkah 4 dari 5
Coba sendiri
Ubah angka-angkanya dan perhatikan bagaimana titik impas bergeser. Coba juga turunkan harga sampai sama dengan biaya per unit.
Kalkulator
Kalkulator membutuhkan JavaScript.
Langkah 5 dari 5
Kalau sisanya nol atau minus
Coba putuskan
Supaya dagangannya cepat laku, Mbak Sari berpikir menjual keripiknya Rp12.000, sama dengan biaya per bungkus.
Apa yang terjadi?
Pertimbangkan lagi
Itu berlaku kalau setiap bungkus masih menyisakan uang. Di harga Rp12.000, sisanya nol.
Pertimbangkan lagi
Berapa pun yang terjual, total sisanya tetap Rp0. Sementara itu, biaya bulanan Rp1.200.000 tetap harus dibayar.
Pilihan paling tepat
Betul. Kalau sisa per bungkus nol, menjual lebih banyak tidak membantu membayar biaya bulanan. Kalau sisanya minus, setiap bungkus malah menambah rugi. Harga atau biayanya harus dibenahi dulu.
Titik impas hanya bisa dicapai kalau setiap penjualan masih menyisakan uang.
Satu hal lagi. Ada tiga angka yang sering tertukar.
- Sisa per bungkus dikumpulkan untuk menutup biaya bulanan. Sisa ini belum keuntungan.
- Laba adalah uang yang tersisa setelah biaya bulanan juga tertutup. Dari sini, sisihkan juga untuk pajak.
- Uang di rekening bisa lebih kecil daripada laba. Pokok cicilan pinjaman dan uang yang Anda ambil untuk keperluan rumah bukan biaya, tetapi tetap mengurangi uang yang ada. Hal ini dibahas lagi di Modul 13.
Kalau waktu kerja Anda sudah dihitung sebagai biaya, seperti upah Dita di setiap paket desain, jangan dikurangi lagi dari laba. Kalau belum, seperti pada keripik Mbak Sari, laba itu sekaligus menjadi upah Anda.
Pelajaran selesai
Rangkuman
Markup dihitung dari biaya, sedangkan margin dihitung dari harga jual. Titik impas adalah jumlah yang harus terjual supaya sisa dari semua penjualan cukup membayar biaya bulanan.
- Markup adalah selisih dibagi biaya. Margin adalah selisih dibagi harga jual. Selalu tanyakan angka itu dibagi dengan apa.
- Sisa per bungkus adalah harga jual dikurangi biaya per bungkus. Titik impas adalah biaya bulanan dibagi sisa itu, dibulatkan ke atas.
- Kalau sisa per bungkus nol atau minus, usaha tidak akan mencapai titik impas.
Hitung biaya per bungkus dengan jujur · Peta belajar · Ditinjau 27 Oktober 2026 · Usaha dan angka di pelajaran ini fiktif, untuk belajar.